Sunday, November 14, 2010

Pak Kumis Pedagang Sayur dari Limbung

Limbung itu nama salah satu kampung (atau kecamatan?) di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Pak Kumis dari sana. Setiap subuh naik sepeda ke pasar Kalegowa dari rumahnya di Limbung. Menjelang matahari tepat berada di atas kepala, pak Kumis beredar di seputaran jalan Ratulangi bagian Selatan, keliling menjual sayur sampai pukul 4 sore, habis atau tidak pulang lagi ke Limbung, masih dengan sepeda jengkinya. Itu sejak tahun 1999.

Tiga orang ibu-ibu kompleks lagi membicarakan pak Kumis yang tawadhu dan tidak pernah kehilangan senyum di wajahnya, tepat di sampingku yang lagi minum kopi hitam buatan mbak Gik.

Aku beryukur bisa mendengar cerita ibu-ibu di kompleks belakang rumah sore itu. Sudah sulit mencari orang-orang tawadhu seperti pak Kumis. Orang-orang yang tidak bisa diukur seberapa dalam kebahagiannya dan seberapa sukses bila menggunakan alat ukur manusia kebanyakan. Tidak mudah menjadi pak Kumis yang tidak risau ada berapa rupiah di kantung celananya.
Tidak semua orang dalam bekerja mampu menganggap pekerjaannya adalah pengabdian buat sesama bukan sekedar mata pencaharian. Pak Kumis lebih merdeka dari kita kebanyakan, kebahagiaan dan kesabarannya tidak berhubungan dengan berapa rupiah yang dimilikinya.