Sunday, September 6, 2009

Karena Duniaku Dipenuhi Oleh Warnamu

I Thought this would be the end of my life
when you told me you’re no longer in love with me
I thought the sun would never arise again
when you told me everything was over
Ten 2 five in My World Is Full With You


Suatu hari bertahun-tahun lalu, ketika akhirnya kembali pulang ke rumah dari membuang diri hampir setahun di tanah Jawa. Menghukum diri sendiri, membunuh rasa malu yang ternyata tidak bisa dibunuh kecuali bila hati nurani telah mati. Ayahku mengucapkan sebaris kalimat singkat menyambut kedatanganku dan seperti lagu itulah perasaanku saat itu.



Hampir setahun membangun kembali rasa percaya diriku, bahwa apa yang aku alami ini cobaan semata dan pasti akan berakhir. Puluhan teman dan saudara di Jawa kudatangi demi mengumpulkan pembenaran-pembenaran bahwa memang yang aku alami ini cuma sebuah musibah, ujian untuk naik kelas dari Tuhan. Semua memberi dukungan, semua memberi support sepenuh hati (terima kasih Kang Akbar, terima kasih uni Iim, terima kasih Chandra, terima kasih Toto, terima kasih Hardin). Mataku dibukakannya, dengan memberi beragam contoh kegagalan. Dan memang betul aku jadi malu hati telah merasa seputus asa saat itu. Betapa banyak yang jauh lebih malang nasibnya dariku toh survive dan baik-baik saja melanjutkan hidupnya.

Di Condet, Jakarta Timur suatu pagi selepas subuh. Perutku begitu lapar dan ada uang seribu perak untuk sebungkus nasi uduk di warung depan lorong. Para pekerja yang biasa nitipin motornya di teras depan kamar kost ku pada belum bangun. Biasanya mereka ngasih imbalan jasa entah rokok, entah duit karena udah dibolehin nitipin motornya. Seribu cukuplah untuk pagi ini.

Ibu pemilik warung baru akan membuka warungnya. "Nyari nasi uduk ya mas? Bentar lagi bapak yg biasa nitipin ke sini datang, tunggu ya.." Di kejauhan aku lihat seorang bapak tua mengayuh sepedanya. Wajahnya bercahaya lebih terang dari lampu jalan kesiangan. Lebih teduh dari subuh jam 5 pagi. Aku ingat bapakku. Melihat aku menatap bapak tua penjual nasi uduk seperti itu, ibu pemilik warung itu berbisik, "Bapak itu punya 3 anak, 2 orang sudah sarjana dan semuanya dibiayainya dengan jualan nasi uduk." Subhanallah. Rusak kalkulatorku dibuatnya. Aku ada di sini membuang diri merugi dari proyek yang nominalnya beribu kali dari sebungkus nasi uduk tapi apa yang aku dapat? Kedinian neraka!. Bapak itu dengan dua puluhan bungkus nasi uduk setiap subuh sudah berada di sorga!

Aku pulang. Rasa percaya diriku tumbuh kembali. Setiba di rumah, ayah menyambutku dengan kalimat, "Kata siapa yang sudah kau alami itu cobaan? Hamba pilihan yang lagi diuji? Memangnya kau siapa? Itu bukan cobaan, bukan musibah tapi penyakit yang kau cari sendiri. Musibah itu seperti kau tengah berjalan di tanah lapang lalu tiba-tiba saja ada batu dari langit menimpa kepalamu." Langit runtuh. Kepercayaan diriku ambrol. Aku di NOL kan ayahku.

Pagi
Di luar masih gelap. Muadzin belum lagi memanggil-manggil sholat subuh
Ayah sudah di dapur membasuh piring bekas makan kami semalam
Ibu sudah di depan tungku menyiapkan sarapan kami pagi nanti
Usai subuh Ayah naik ke atas membangunkan kami semua
Nak! Sholat subuh dulu..
Usai subuh Ibu juga naik ke atas membangunkan kami semua
Nak! Sholat subuh dulu..
Usai membuka warung kami ayah naik lagi ke atas membangunkan kami semua
Nak! Sholat subuh dulu..
Usai mandi Ibu naik lagi ke atas membangunkan kami semua
Nak! Sholat subuh dulu..
Usai kami sholat subuh
Ayah sudah menyapu di halaman rumah kami
Ibu sudah melayani orang-orang yang belanja di warung kami
Kami sudah lelap lagi
Usai mandi sebelum ke kantor ayah naik ke atas membangunkan kami semua
Nak! Bangun dulu.. Kawani Ibumu di warung
Usai berkemas ayah naik lagi ke atas membangunkan kami semua
Nak! Bangun dulu.. Kawani Ibumu di warung
Usai memanaskan mesin motor ayah naik lagi ke atas membangunkan kami semua
Nak! Bangun dulu.. Kawani Ibumu di warung
Andai itu tidak pernah terjadi, betapa hari ini aku berpijak di atas keyakinan yang salah tentang mana yang musibah dan mana yang nyari musibah. Pa, warnamulah yang selalu aku coba tiru, walau tak sesempurna milikmu, tapi akan terus aku coba.