Site Network: english version | warteknet isp | wartekindo | uptpro untad |

Cari di Blog Ini

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Accidentally miniBlog



Marah

Mereka pikir *itupun kalo bisa mikir* anaknya (baca: manusia) itu efek samping dari perbuatan coitus saja barangkali?!

Seorang adik kelas 2 SMA yang biasa ngumpul dengan teman-teman sebayanya di gedung depan kantor. Terancam putus sekolahnya karena ayahnya sudah tidak mau biayai. Sepulang dari Makassar sudah saya tanya beberapa kali, "Kenapa tidak sekolah? Selesaikan SMA mu dulu kalo memang so capek sekolah supaya standar pendidikan formal orang-orang yang ada di sini berijazah SMA seperti standar kalo mo jadi presiden RI. Nanti dibantu biayanya dari honor kerja-kerja lepas di luar adek" Dengan enteng dia menjawab, "Kalau memang dengan ijazah SMP saya cuma bisa jadi kuli, ya sudah jadi kuli jo saya sampe mati kak.." Kubujuk lagi, "Tidak semua orang seperti Buya Hamka yang cuma berijazah formal SD, tapi dia punya semangat, motivasi dan dispilin tinggi hingga akhirnya menjadi seorang guru besar di Al Azhar Mesir! Kau ini adek, bangun saja dikasi bangun. Baca buku syukur kalo ada satu kali seminggu.." Dia tidak bergeming, tetap tidak mau sekolah rasanya mau kuhajar saja sampai dia pergi sekolah.

Jawaban begitu pasti bukan cuma soal biaya. Ada yang lebih besar dari itu. Kuajak bercerita beberapa kawannya, mengalirlah cerita tentang ayah anak itu yang cuma mengenal judi dan mabuk, seorang PNS dengan harta warisan berlimpah yang kini habis terjual. Anak tertua dari belasan saudaranya yang lahir susul menyusul rapat-rapat. Ayahnya main tangan pada anak itu, pada ibunya dan pada adik-adiknya. Terakhir dia terusir oleh ayahnya karena melawan saat ingin dikenai tangan dan ibunya berencana meninggalkan ayahnya pulang ke rumah orang tuanya. Saya terdiam tak bisa lagi menanggapi cerita kawannya.

Teringat olehku, seorang anak yang sebaya dengan adik satu itu yang tinggal di kawasan kumuh di belakang rumah di Makassar. Suatu hari anak ini menegur ayahnya yang baru pulang pagi dalam keadaan mabuk, "Dari mana maki itu pagipi baru pulang? Bau tuak lagi!" Ayahnya menjawab enteng, "Sannang lalo mako tela**! Tuak yang kuminum ini juga yang bikin kau lahir!".

Banyak teori dan hikmah yang kupungut tentang anak dan orang tua walaupun aku belum menjadi seorang ayah. Seorang kawan sesaat setelah pengantin baru mengisahkan padaku tentang bagaimana ia berpuasa selama tiga hari dahulu sebelum bercampur dengan istrinya dengan niat memperoleh keturunan. Ia sudah mulai mendidik anak-anaknya saat anaknya itu masih berupa sari pati kehidupan di dalam tulang sumsumnya.

Tak mampu lagi kuteruskan. Bila kuteruskan isinya hanyalah makian untuk ayah adik itu.




Posted by Aan Burhany 7:22 PM  

0 comments:

Post a Comment