Wednesday, March 18, 2009

Cukup

Bila aku pura-pura dungu dan tidak tahu, bukan berarti itu kesempatan untuk membodohiku kawan! Sebenarnya itu kesempatan terakhirmu untuk perbaiki semuanya, kecuali bila kau memang sudah tidak mau lagi aku jadi kawanmu. Ah! Apa kau lupa? Bila sesuatu akan atau sedang terjadi radar di hatiku biasanya sudah bergetar lebih dulu?
Sudah lama tidak semarah ini, akibatnya tidak bisa tidur hingga pukul 4 pagi tanpa bikin apa-apa kecuali menahan getaran amarah sambil menghela nafas panjang. Kubiarkan malam ini amarahku mencapai puncaknya, supaya besok aku sisa menunggunya turun. Marah itu perlu, asal konstruktif. Marah yang membangun. Dimana-mana juga marah itu biasanya destruktif atau menghancurkan tapi yang terarah dan terkendali tidak. Marah itu jadi destruktif jika kita berhenti di titik "pelampiasan" saja, mengamuk membabi buta menghancurkan segalanya. Namun bila proses penghancuran selesai dan kita teruskan dengan proses membangun kembali sesuatu yang sama sekali baru --setelah membersihkan puing-puing yang kita hancurkan tadi tentunya-- nah! Itu sudah kelihatan seperti "marah konstruktif" bisa juga kelihatan seperti "revolusi". Seperti yang "Oasis" nyanyiin, "I start my revolution from my bed!". Seperti itulah malam, eh subuh ini.

Lalu untuk apa maaf diciptakan?
Selalu ada maaf untuk setiap permintaan maaf. Karena Aku juga ingin dimaafkan saat berbuat salah. Personnya pasti kumaafkan, tapi tidak untuk kelakuannya, ini bukan kali pertama dengan kesalahan yang sama. Toleransiku masih berbatas untuk apa yang kuyakini adalah prinsip kawan, maaf. Dan dengan memberi batasan toleransi sebenarnya aku sudah menjaga untuk tidak lagi mengulangi kemarahan subuh ini. Aku sama sekali tidak butuh penjelasan, alasan atau alibi-alibi apapun. Tidak ada gunanya, tidak akan merubah apapun.

Mari berjuang melanjutkan hidup dengan beban hidup yang sudah pasti sesuai dengan porsi kita masing-masing. Di padang Mahsyar kelak semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung, amin.