Wednesday, January 7, 2009

Jika Cantik Fisik Bukan Prioritas, Lalu Apa?

Secara fisik aku jauh dari ganteng, bukan berarti aku nggak bersyukur dengan "casing" yang dipinjemin Tuhan untuk aku pakai selama hidup, aku hanya membandingkan "casing" yang ada padaku dengan "casing" lain dengan standar majalah dan televisi supaya selalu berada di tengah-tengah, tidak berbangga diri dan tidak rendah diri.

**Ngaco nih! Tulisanku nggak terkontrol, bener2 "SALE".. Biarin ah! Sebelum dua posting terakhir aku malah berencana membuat "daily posting" 365 hari mencari "soulmate" karena pertimbangan Term of Service (TOS) dan Privacy Policy ku urungkan niatku nulis "opera sabunku" sendiri yang pertama di sini.. :D

Aku Tidak Dikejar Waktu
Aku yang mengejar waktu, berusaha mencapai break-event-point setelah di usia 25-30 tahun kulalui tanpa sedikitpun berpikir serius tentang menikah dan menabung untuk memberikan kehidupan yang layak (menurut standar kalangan menengah di Indonesia aja, nggak pernah terpikirkan pengen hidup berlebihan, aku cuma ingin memastikan keluargaku tidak kekurangan tapi tidak berlebihan) buat bakal keluarga kelak.. Tahu-tahu beberapa hari lagi aku sudah 36 tahun dan tentu saja itu membuatku gusar. Bagaimana aku bisa tenang bila hidup berpasang-pasangan adalah "sunnatullah" atau kodrat species manusia?

Aku Bohong..
Bila kutulis tidak ada perempuan yang lagi dekat denganku, berhubung klausul TOS dan Privacy Policy tadi maka aku tidak akan menulis tentang siapa atau bagaimana dia, aku lebih suka menuliskan tentang prospek kedekatanku ini untuk di "up-grade" ke pelaminan yang nyaris mustahil sebagai pembelajaran. Sungguh aku suka pada kondisi mustahil. Membuatku berjuang untuk membuatnya mewujud, lepas dari berhasil atau gagal akan ada banyak pelajaran hidup yang bisa kudapatkan. Masalahnya kalo waktunya (yang rasanya makin terbatas ini) dipake buat belajar terus dan nggak dipraktekin kapan nikahnya? :D

Cinta itu bullshit, maaf tapi begitulah kebanyakan cinta yg pernah kutemui bila berbicara tentang cinta pada lawan jenis, meski tidak semuanya karena aku percaya tokoh seperti kisah-kisah inspirasional yang pernah kutulis di sini memang benar-benar ada, seperti seorang suami yang memilih mendampingi istrinya yang lumpuh seumur hidupnya daripada menikahi perempuan lain seperti yang disarankan oleh anak-anaknya. Sebagian besar dari kita --dan mungkin juga aku-- dalam mencintai tidak begitu ikhlas, makanya aku sebut bullshit. Ada kepentingan yang kita titip, ada harapan yang kita inginkan terwujud dan itu belumlah bisa dikategorikan cinta yang ikhlas.

Pernahkah kita mencintai seseorang tanpa mengharapkan mendapatkan cintanya juga? Pernah? Benarkah? Tidakkah dadamu bergemuruh ketika kau tidak dicintai sebagaimana engkau mencintai dia? Aku pernah bertemu cinta macam itu. Cinta ibu pada anaknya dan cinta Muhammad SAW pada ummatnya.