Tuesday, October 21, 2008

Hakikat Memberi Yang Aku Pahami..

Bukanlah memindahtangankan sesuatu yang tadinya kepunyaanku untuk menjadi kepunyaan orang lain, lepas dari apa motivasinya memberi, sesungguhnya kita tidak sedang memberi apa-apa (hakikat ketiadaan materi) kecuali niat di hati kita yang menyertai pemberian kita, dan sebenarnya kita memang tidak memiliki apa-apa, jadi jangan besar kepala merasa lebih baik dari sang penerima saat kita berada di posisi pemberi..

Aku takut tulisan ini jadi berkembang ke arah filsafat eksistensialis bila membahas materi padahal aku lagi ingin "becanda" dengan kata kerja "memberi" (atau kata sifat untuk orang-orang yang telah menjadikan "memberi" sebagai bagian dari karakternya) bukan kata benda "materi", lagian memberi dan menerima tidak selamanya berwujud materi.

Ada kisah yang pernah aku baca di buku "Jalan Paradoks" (terbitan mizan, pengarangnya lupa, yang jelas buku ini reccomended to buy) begini, di sebuah pesawat, seorang pramugari bertanya kepada seorang penumpang jelang 30 menit pesawat itu landing di bandara pertama dari rute mereka hari itu, "Maaf, bapak turun di bandara mana?" Penumpang itu menjawab, "Silahkan periksa tiket saya, semua sudah di atur oleh sekertarisku. Saya sekedar mengikuti agenda yang telah dijadwalkannya." Dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit orang yang seperti ini, mereka berkeyakinan bahwa segala sesuatu di luar dirinya telah ada yg mengatur semuanya, bukan hanya soal akan kemana kita hari ini tapi segalanya, termasuk kepada siapa kita akan memberi sesuatu atau dari siapa kita akan menerima sesuatu.

Mereka tidak lagi memiliki beban atau terbebani dengan hidupnya. Mereka inilah orang-orang yang merdeka menurutku, merdeka dari perbudakan kehendak dan keinginan mereka sendiri. Mereka membiarkan segala sesuatunya mengalir begitu saja karena itu tadi, keyakinan bahwa semuanya sudah ada yang ngatur. Ketika mereka mendapatkan atau membuat pencapaian-pencapaian mereka tidak terkena euphoria menjadi si hebat, emang udah diatur aku bakal mencapai ini dan saat mereka gagal mendapatkan sesuatu mereka juga nampak biasa-biasa aja gak lantas nyanyiin lagu "why does the sun go on shining.." :), karena keyakinan itu tadi... Dibalik kebebasan kita merencanakan hidup kita dan menentukan nasib kita akan kemana atau akan menjadi apa, sebenarnya itupun sudah ada yang atur. Easy like sunday morning, blowing with the wind. Just like that. Pengen banget bisa kayak gitu, amin.

Tipe kedua adalah tipe yang dalam memberi dan menjalani hidup semuanya sudah terencana rapi dan mereka berkeyakinan bahwa pencapaian mereka dan pemberian mereka itu karena kebebasan mereka memilih nasib dan keliahaian merencanakan takdirnya. Dalam memberi biasanya mereka "menitipkan" target dalam pemberiannya jadi sebaiknya tidak semua pemberian diterima. Bukan bermaksud merendahkan atau membuat si pemberi tersinggung, justru dengan menolak pemberian bisa mencegah si pemberi dari rasa kecewa, kecuali kalau kita bisa mewujudkan niatnya yang terselubung. Tipe seperti ini sedang "berinvestasi" dengan pemberiannya, dan setiap "investasi" pasti mengharapkan "dividen". Hati-hati dalam menolak juga perlu, karena jangan sampai karena "prasangka" kita malah menghalangi orang yang lagi pengen bersyukur dengan berbagi. Ah.. Di hati manusia sudah ada radar tercanggih yang pernah diciptakan. :)

Bukankah tangan di atas lebih baik dari yang di bawah? Atau kata pak kepala sekolah di "Laskar Pelangi" jangan mudah menyerah, kurangi menerima perbanyak memberi dan tetap semangat!