Sunday, July 27, 2008

Bhinneka Tunggal Ika

Tidak di kabupaten terpencil Parigi Moutong, atau kabupaten Donggala yang dulu lebih terkenal dari kota Palu sebelum Palu jadi ibukota Propinsi Sulawesi Tengah, di Makassar dan di beberapa kota kecil di NTT, tutur Muharywn (yang baru pulang dari pulau terpencil di Kupang) memang benar kita ini bangsa yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bau, warna dan bahasa tapi tetap memiliki kesamaan dan salah satu kesamaan yang "tunggal ika" adalah spanduk pilkada. Format dan bentuknya serupa. Foto sepasang calon atau sendirian lengkap dengan slogan dan janji.

Meminjam istilah Taufiq Ismail, mungkin ini ya euforia demokrasi itu? Kalau kata aku sih, kita sudah belajar tanpa sadar (atau sadar) pada Amerika Serikat yang paling jago "mengemas dan mencitrakan" apapun menjadi "dagangan" atau sesuatu yang bisa dijual. Blogging ini salah satu contoh keberhasilan mengemas hobby menulis menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bisa menghasilkan uang. Kemampuan melakukan dan memanipulasi "image" atau "pencitraan" itu lumrah dalam dunia dagang tapi dalam dunia politik etiskah itu? Jangan-jangan benar adanya, politikus kini hanyalah pedagang sapi berdasi. Sinis ya? Tapi fakta, sebagian besar perilaku politikus mau orangnya, parpolnya atau penguasanya di Indonesia itu soal bargaining, soal tawar menawar, aku punya ini untukmu, kamu punya apa buatku?

Apa target mereka memasang baliho raksasa? Apa yang dicari dengan memasangnya hingga ke sudut-sudut kampung? Marketing. Iya itu taktik marketing namanya meningkatkan pengetahuan tentang produk yang akan dilempar ke konsumen sekaligus membuat "brand image" yang diharapkan kokoh dan tertanam ke dalam benak konsumen.

Parah. Ketokohan calon pemimpin Indonesia kini dibangun lewat marketing bukan karena memang dia seorang tokoh, seorang pemimpin. 

Pernah baca kisah almarhum Daud Bereuh dari Aceh? Berikut kutipan yang pernah aku baca dari sisipan majalah Tempo sebelum SIUPP nya di cabut:

Begitu besarnya kharisma beliau sampai dianggap perlu dijauhkan dari rakyat Aceh dengan dipindah rumahkan paksa ke Jakarta. Jalan trans Sumatera yang masuk ke Aceh adalah buah tangannya. Buah tangan di sini benar-benar buah tangan, bukan dengan bulldozer atau alat beratnya. Ketika beliau tergerak hatinya untuk membuka hutan agar jalan trans sumatera yang kehabisan dana bisa masuk hingga ke pelosok Aceh, serentak rakyat aceh keluar rumah membelah hutan menimbun rawa. Seorang penduduk bahkan mengiba-iba pada beliau supaya tidak mengotori tangannya dengan bekerja kasar. Apa kata beliau? "Tak bisa aku menganjurkan orang untuk melakukan hal yang aku sendiri tak lakukan. Teruslah bekerja! Sabang masih jauh!"

Nah. Para pemimpin hasil pencitraan berakarkah anda di hati para pemilih anda?